Penasaran Dengan Film 99 Cahaya di Langit Eropa?, Ini dia Resensinya…

Bagi anda yang penasaran dengan alur cerita film 99 Cahaya di Langit Eropa, berikut ulasannya :

Layar dibuka dengan tampilan sebuah ruangan kelas, beberapa anak sedang menikmati kisah yang diceritakan oleh seorang wanita paruh baya. Sebuah kisah tentang kekalahan tentara Turki saat akan melakukan ekspansi di daratan Eropa. Pasukan yang dipimpin oleh Kara Musthafa tersebut akhirnya harus takluk disana dan mengakhiri masa kejayaan Islam di daratan tersebut.

Sebuah cibiran dari anak pribumi pada seorang anak kecil berjilbab keturunan Turki yang ternyata diketahui bernama Ayse memulai konflik, yang ternyata akan membuka kisah lebih jauh perjalanan Islam di Eropa pada film tersebut dan tentunya pula akan membuka mata kita tentang apa sebenarnya dan bagaimana cahaya Islam satu persatu terkuak dan berkilau di belahan benua Eropa.

Seperti film-film lainnya yang berasal dari adaptasi sebuah buku, maka film yang diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya Hanum Salsabiela Rais ini juga menghadirkan beberapa narasi yang mungkin terlalu sulit untuk dihadirkan dalam visual.

Adalah seorang Hanum Salsabila, tokoh utama yang akan mengajak kita untuk menyusuri hari-hari di daratan penuh cerita ini. Kita diajak untuk menyusuri satu persatu sudut indah sebuah kota bernama Vienna. Tempat dimana ia harus menjalani hari ketika mengikuti suaminya yang mendapatkan beasiswa S3 di sebuah universitas di kota tersebut.

Rasa senang dan bahagia menyusuri keindahan kota ternyata perlahan pudar, ketika rasa jenuh mulai menapaki perasaan Hanum. Terlebih ketika menyaksikan ternyata disini, untuk mendapatkan pekerjaan begitu sulit. Dia harus menyaksikan dengan mata kepala sendiri, ketika seoarang wanita berkebangsaan Turki harus ditolak ketika ia meminta sebuah pekerjaan hanya dengan alasan wanita tersebut tidak fasih berbahasa Jerman.

Sebuah kursus bahasa Jerman akhirmnya mempertemukan Hanum kembali dengan wanita itu, Fatma Pasha. Kehadiran Fatma Pasha ternyata lambat laun telah menjadikan sebuah kekuatan baru bagi Hanum. Apalagi ketika lebih lanjut Hanum dipertemukan dengan seoarang anak perempuan kecil berjilbab yang diceritakaan pada awal tayangan film, Ayse. Menjadikan kisah selanjutnya begitu mengalir indah untuk disimak.

Kegemaran akan dunia reportase dari seorang Hanum ternyata menjadi titik temu yang begitu kuat untuk membuka kisah. Satu demi satu perjalanan mulai diurai oleh mereka, Hanum, Fatma serta Ayse. Dari sana pula satu persatu cahaya mulai berkilau menmbuka lembaran makna akan kehadiran cahaya islam di benua Eropa.

Sementara Hanum menemukan dunia barunya yang menjadikan ia semakin terpukau akan kebesaran Islam di Eropa, kisah dari Rangga sang suami dari Hanum juga menjadi pelengkap cerita yang menarik. Ia hadir dengan sebuah prestasi yang membuat penonton terkagum karena mampu menjadi bintang disebuah dunia pendidikan di benua yang menjadi idaman bagi para penggiat beasiswa. Ia dihadapkan dengan konflik cerita yang menghadirkan keragaman budaya, keragaman cara berkeyakinan serta keragaman sifat dari rekan-rekan di tempat ia menimba ilmu.

Perjalanan Hanum semakin kaya ketika ada satu plot cerita yang membawa Hanum untuk ikut serta dalam sebuah acara suaminya di Paris. Ia akhirnya menambah koleksi kekagumannya akan cahya Islam di negeri Perancis juga, setelah seorang muslimah bernama Marion, salah seorang sahabat Fatma yang bertugas sebagai agen islam di Paris mengajaknya untuk mengenal kebesaran Islam disana.

Sebuah hal yang tidak diterka sebelumnya oleh kami para penonton adalah ketika ternyata ada sebuah kisah yang terungkap akan kehidupan Ayse dan siapa sebenarnya Fatma di akhir cerita. Sebuah tanda tanya yang mengajak kami para penonton untuk tidak sabar akan bagaimana kisah 99 Cahaya di Langit Eropa part. 2.

Secara keseluruhan, penonton, termasuk kami begitu dihibur oleh keindahan Eropa, kami bukan hanya dihibur oleh menjulangnya keindahan Menara Eifel, namun ternyata begitu banyak tempat bersejarah yang jauh lebih indah dihadirkan di film ini. Tempat-tempat tersebut menyimpan satu demi satu cahaya Islam yang menjadikan Eropa begitu berkilau pada saat itu, dan insyaAlloh akan kembali suatu saat nanti. Namun ada satu yang membuat gregetan saya ketika ada sebuah adegan ketika Hanum, Fatma dan Ayse sedang menikmati makanan di sebuah restoran, kamera seakan terlalu mengekspos tampilan cara makan yang menggunakan tangan kiri, sayang sekali. Meski mungkin dari segi masakan yang disantap agak sulit jika menggunakan tangan kanan, tapi saya yakin seandainya screen ini lebih ditutup sedikit akan lebih baik lagi jadinya.

Lebih jauh, ada begitu banyak nilai-nilai Islam yang dihadirkan di film ini. Bukan hanya sejarah, atan hanya traveling saja, kami seperti disadarkan kembali untuk mengingat ini sebenarnya Islam, Islam yang lembut, Islam yang damai, serta Islam yang menghadirkan rahmat bagi sekalian alam.

302 total views, 1 views today

Tags:

FACEBOOK COMMENT