Pertanian di Air Asin

14134703902_6148746004_b

Dr Arjen De Vos dengan hasil panennya. sumber: saltfarmtexel.com

 

ChannelBerita.com – Baru-baru ini sebanyak 6 ton kentang telah di ekspor dari Belanda ke Pakistan. Sekilas mungkin ini adalah hal biasa, mengingat kentang adalah bahan makanan pokok bagi sebagian orang di planet ini. Hanya mungkin untuk ukuran ekspor antar negara, maka kentang sebanyak 6 ton ini adalah jumlah yang relatif sedikit.

Memang ini bukanlah ekspor impor biasa, karena komoditi yang ditransaksikan adalah kentang jenis baru yang bisa tumbuh di lahan yang kadar garamnya tinggi. Adapun tujuan diekspor dari Belanda ke Pakistan adalah dalam rangka menguji apakah kentang yang sukses tumbuh di lahan asin di Belanda ini, bisa juga tumbuh di lahan asin di Pakistan.

“Air (tawar) di dunia ini, 89%nya telah tersalinasi (kadar garamnya tinggi), 50% lahan pertanian telah terancam oleh air asin, dan ada jutaan orang hidup di daerah yang terkontaminasi (air asin). Tidak sulit untuk mengatakan, bahwa kita sedang dalam masalah”, ujar van Rijsselberghe. “Hingga sekarang, orang selalu berkonsentrasi pada bagaimana mengubah air garam menjadi air tawar; kita mencari apa yang telah disediakan oleh alam.”

Van Rijsselberghe adalah pemilik Salt Farm Texel, sebuah pertanian yang bertempat di pulau Texel, wilayah utara Belanda. Dalam penelitiannya ini, Van Rijsselberghe bekerjasama dengan Free University di Amsterdam. Universitas ini mengirimkan Dr Arjen De Vos untuk menjadi partner Van Rijsselberghe.

Texel (di ucapkan “Tessel”), adalah  pulau dengan tiupan angin yang tinggi, dikelilingi oleh lautan bergelombang besar dan di pulau banyak rawa-rawa berair asin. Namun di pulau yang “mematikan” tanaman ini, kedua ahli ini mewujudkan mimpinya memanfaatkan lahan asin untuk bertani.

Di belahan dunia yang lain, tepatnya di Australia sekelompok ahli tengah mengembangkan tanaman Gandum yang juga bisa tumbuh di lahan yang asin. Penelitian yang dilaksanakan oleh tim dari Universitas Adelaide ini mengembangkan tanaman Gandum varietas baru dengan metoda tradisional, bukan dengan metoda modifikasi genetik.

“Penelitian ini sangatlah penting mengingat salinitas (resapan air asin) telah mempengaruhi lebih dari 20% lahan pertanian di dunia. Tingkat salinitas yang semakin membesar akibat perubahan iklim ini merupakan ancaman terhadap proses produksi makanan”, ujar Dr Rana Munns, salah seorang peneliti di tim itu. “Salinitas adalah isu utama di wilayah-wilayah penghasil gandum di Australia. Australia adalah negara pengekspor gandum terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Tahun 2050 penghuni dunia diperkirakan mencapai 9 miliar, dan kebutuhan akan makanan meningkat 100% dari kebutuhan sekarang. Tanaman yang bisa tumbuh di lahan asin merupakan faktor penting untuk kelangsungan produksi makanan”. (IR/ChannelBerita)

sumber: inhabitat.com, theguardian.com

 

 

 

 

3,921 total views, 1 views today

Tags: , , , , ,

FACEBOOK COMMENT